DARI MEDIA

BPK Berencana Lancarkan Audit

15 September 2015

JAKARTA - Badan Pemeriksa Keuangan berencana melakukan audit terkait dengan kemungkinan penyebab kebakaran hutan yang beberapa kali terjadi di Indonesia.

Wakil Ketua BPK Sapto Amal Damandari mengatakan, sebenarnya tanpa diminta oleh pemerintah pun, BPK akan melakukan pemeriksaan penyebab terjadinya kebakaran hutan yang selalu berulang. Namun, sebelum melakukan pemeriksaan, langkah pertama yang dilakukan adalah dengan membawa hal tersebut ke sidang BPK yang akan dibahas bagian mana saja yang akan diperiksa.

Terkait dengan kebakaran hutan ini, dia menekankan, jika hasilnya terdapat unsur kesengajaan, pemerintah akan menegakkan aturan. Memproses siapa saja yang sengaja melakukan hal tersebut. "Jika kebakaran yang terjadi tersebut karena ketidaksengajaan dan berada di lahan milik rakyat. Tetap harus dilindungi," ujar Sapto di Jakarta, Senin (14/9).

Langkah yang dilakukan oleh BPK untuk memberikan perlindungan adalah bekerja sama dengan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) dan pemerintah daerah.

Kepala Biro Humas dan Kerjasama Internasional BPK Yudi Ramdan mengatakan, seringnya terjadi kebakaran hutan membuat BPK perlu meningkatkan kemampuan para auditornya terkait dengan masalah tersebut.

Yudi menambahkan, BPK pernah melakukan audit pada periode 2010/2011 atas pengelolaan hutan di Jambi dan Riau. Selain itu, BPK juga memberikan rekomendasi untuk memperbaiki sistem tata kelola hutan.

"Saya belum dapat data yang jelas mengenai hal itu," kata Yudi, saat ditanya potensi kerugian per tahun akibat kebakaran hutan.

Pada saat ini, berdasarkan situs BNPB, di Sumatra setidaknya terdapat 1.143 titik panas. Dari total tersebut, 13 titik panas berada di Bengkulu, Jambi 234, Lampung 69, Riau 78, Sumatra Barat 25, dan Sumatra Selatan 724 titik panas.

Adapun, titik panas di Kalimantan mencapai 266 titik di antaranya 26 di Kalimantan Barat, Kalimantan Selatan 74, Kalimantan Tengah 164, dan Kalimantan Timur 2.

Titik panas atau yang biasa disebut dengan hotspot, menurut Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan) adalah suatu wilayah yang memiliki suhu relatif lebih tinggi dibandingkan dengan sekitarnya yang dapat dideteksi oleh sate lit. (Yudi Supriyanto)

Bisnis Indonesia